Bertani Aman dan Berkelanjutan demi Masa Depan Anak

Bertani Aman dan Berkelanjutan demi Masa Depan Anak

Di Kota Ternate, Zulkarnain (43) bersama istrinya, Mardiana, menggantungkan hidup pada lahan hortikultura yang mereka kelola secara mandiri. Selama bertahun-tahun, terong menjadi komoditas utama keluarga ini, sekaligus sumber pembiayaan kebutuhan rumah tangga dan pendidikan empat anak mereka. Pada pola tanam sebelumnya, Zulkarnain menanam sekitar 800 bibit terong dengan ketergantungan penuh pada pupuk kimia. Biaya produksi yang dikeluarkan mencapai RP 3 juta per musim tanam, dengan hasil panen lebih dari 1 ton dan harga jual RP 15.000 per kilogram. Meski menghasilkan pendapatan kotor sekitar RP 15 juta, tingginya biaya produksi dan kekhawatiran akan dampak kesehatan membuat usaha tani tersebut terasa berat dan tidak sepenuhnya berkelanjutan.

Titik balik terjadi Wahana Visi Indonesia (WVI) memperkenalkan pupuk organik cair Biokonversi melalui pendampingan langsung di lahan. Zulkarnain kemudian beralih ke metode menanam organik dan menyesuaikan populasi tanam menjadi 501 bibit. Perubahan ini membawa dampak signifikan pada efisiensi biaya karena hingga usia tanaman saat ini ia hanya menggunakan lima botol Biokonversi dengan total biaya sekitar RP 500.000. "Biaya produksi jauh lebih ringan dan saya lebih tenang karena hasil panen aman dikonsumsi anak-anak," ujar Zulkarnain, menggambarkan perubahan yang ia rasakan sejak beralih ke pupuk organik.

Dari sisi produktivitas, dengan 501 bibit Zulkarnain telah melakukan 15 kali panen dengan total hasil mencapai 699,8 kilogram. Dengan harga jual tetap RP 15.000 per kilogram, pendapatan kotor yang telah diperoleh mencapai sekitar RP 10,49 juta, sementara panen masih terus berlangsung setiap minggu dan produksi diperkirakan akan terus bertambah. Dengan biaya pupuk yang jauh lebih rendah, pendapatan bersih yang diterima keluarga menjadi lebih stabil dan sehat secara ekonomi, meskipun skala tanam lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Efisiensi inilah yang memberi ruang bagi keluarga untuk mengatur keuangan tanpa tekanan biaya tinggi di awal musim tanam.

Perubahan di lahan tersebut berjalan seiring dengan transformasi dalam pengelolaan keuangan keluarga melalui pelatihan Gender Inclusive Financial Literacy Training (GIFT). Mardiana kini berperan aktif mencatat setiap pengeluaran dan pemasukan usaha tahni, mulai dari benih hingga hasil penjualan panen mingguan. Setiap kali panen, keluarga ini berkomitmen menyisihkan minimal RP 100.000 untuk tabungan pendidikan anak, yang tidak pernah digunakan untuk kebutuhan lain. "Sekarang kami tahu keuntungan bersih kami, jadi menabung untuk anak-anak terasa lebih pasti," ungkap Mardiana.

Bagi keluarga Zulkarnain, panen yang berkelanjutan setiap minggu, ditopang biaya produksi yang efisien, telah menjadi fondasi nyata untuk membangun masa depan pendidikan anak-anak mereka.

 

 

Penulis: Julianti (Penyedia Jasa Individu untuk program INCLUSION di Maluku Utara) 

Penyunting: Purwono (Team Leader INCLUSION di Maluku Utara) 


Artikel Terkait