Perempuan Sumba Berdaya di Ibu Kota

Perempuan Sumba Berdaya di Ibu Kota

“Di kampung, saya adalah anak perempuan pertama yang keluar untuk melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah,” ujar Maria Goreti, membuka cerita perjalanan hidupnya. Saat ini, ia telah menjadi perempuan Sumba yang berprofesi sebagai Co Creator Development di Narasi TV. Ia tiba di titik pencapaian ini karena berhasil melalui proses hidup yang penuh dinamika sejak masih anak-anak. 

Gambar pedesaan klasik khas Indonesia adalah kenyataan bagi Nana, begitu ia akrab disapa. Desa yang dikelilingi bukit, padang rumput, dan sawah adalah tempat tinggal Nana ketika kecil hingga remaja. Kampungnya berada di Kabupaten Sumba Barat. Orang tuanya bekerja sebagai petani, sama seperti kebanyakan masyarakat lain di sana. 

Sepuluh tahun yang lalu, listrik pun belum masuk ke desa tempat Nana tinggal. Anak-anak harus menimba air terlebih dulu supaya bisa mandi sebelum sekolah. Perjalanan menuju sekolah harus ditempuh dengan berjalan kaki. “Waktu saya kelas satu sampai dua SD, karena ruang kelas yang sangat terbatas, saya sempat belajar di tempat yang dulunya bak penampungan sampah,” kenang Nana. Namun, begitu banyak hambatan yang ia alami ternyata mampu dilampaui dengan dukungan keluarga dan Wahana Visi Indonesia. 

Pada tahun 1999-2014, Wahana Visi Indonesia melakukan pelayanan pengembangan masyarakat di Kabupaten Sumba Barat. Nana adalah salah satu anak sponsor dari desa dampingan WVI saat itu. Selain keterbatasan akses layanan dan fasilitas, anak-anak di Sumba Barat juga berhadapan dengan isu perlindungan dan ketidaksetaraan gender. 

“Bersyukur sekali, di tengah keterbatasan yang saya alami, ketika masih kecil dan sekolah dulu itu ada kakak-kakak WVI yang mendampingi saya di Forum Anak. Itu juga yang membawa saya bisa mengenal dunia luar, baik lewat layar atau lewat kegiatan yang difasilitasi oleh WVI,” ungkap perempuan yang juga jadi pengelola Klub Buku Narasi ini. 

 

Anak Perempuan yang Bebas Berkembang 

Budaya patriarki di Sumba Barat mengiringi pertumbuhan Nana. Sebagai anak bungsu perempuan, seharusnya ia membantu Mama mengurus rumah dan kebun. “Jangan kemudian bermimpi untuk bisa sekolah tinggi atau punya kesempatan untuk berkarya di ruang publik,” tuturnya. Karena perspektif yang seperti ini, saat remaja, Nana melihat bagaimana teman perempuan sebayanya merelakan pendidikan demi pernikahan atau pekerjaan sebagai buruh migran. 

Tekanan ekonomi dan budaya akhirnya memosisikan anak perempuan di Sumba Barat sebagai jalan pintas agar cepat mendapat uang. Pemberdayaan perempuan adalah sebuah kemewahan atau sebuah investasi yang dirasa lambat menghasilkan. “Karena orang tua merasa kalau sudah tidak ada uang lagi untuk sekolah, ya silahkan menikah supaya orang tua dapat mahar. Atau, bekerja saja untuk mendongkrak ekonomi keluarga. Jadi anak perempuan itu, kalau tidak jadi tulang punggung keluarga ya jadi yang paling sering dikorbankan,” ujar Nana. 

Di tengah masyarakat terbentuk siklus kekerasan terhadap perempuan. Anak-anak perempuan putus sekolah, menikah di usia muda tapi tidak mapan secara finansial. Mereka terpaksa mengemban beban ganda menjadi seorang ibu bekerja. Sedangkan lapangan pekerjaan yang ada hanya sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW). Mereka harus meninggalkan anak di kampung, tanpa pengasuhan yang jelas. “Syukur kalau suami mereka masih mau mengasuh anaknya. Tapi kalau dititipkan ke keluarga yang tidak memperhatikan hak hidup anak, jadinya makin ganda lagi masalahnya, makin kompleks,” jelas perempuan yang hobi membaca ini. 

Realita ini menjadi motivasi bagi Nana untuk berpartisipasi aktif dalam Forum Anak yang WVI fasilitasi dan berkomitmen untuk lanjutkan studi hingga perguruan tinggi. Selain itu, ia juga ingin memanfaatkan kebebasan berpartisipasi dan berkembang yang diberikan oleh orang tuanya sebaik mungkin. 

“Satu hal yang paling saya ingat dari Bapak saya, kalau ke mana-mana, menemukan majalah atau buku bekas yang dibuang orang, itu diambil sama Bapak terus dibawa ke rumah, ditumpuk untuk dibaca. Orang tua saya merasa bahwa, meskipun mereka tidak sekolah tapi sebisa mungkin mereka kasih ruang untuk saya tetap belajar,” cerita Nana. 

Ia pun tumbuh berbeda dari anak perempuan kebanyakan di desanya. Nana aktif mengikuti kegiatan di sekolah dan komunitas, serta memiliki beragam bahan bacaan. Ia menjadi anak perempuan yang membanggakan orang tuanya dengan sederet prestasi akademik dan non akademik. 

“Bapak dan Mama selalu berpesan, selagi sekolah dan kegiatan lain yang saya ikuti itu baik-baik, saya juga tidak merugikan orang lain, silahkan dan teruskan apa yang saya rasa baik untuk masa depan saya. Orang tua akan mendukung dengan cara mereka meskipun sesederhana jadi benteng pertahanan ketika ada orang-orang yang memberi komentar miring tentang aktivitas saya,” ungkapnya. 

Nana berhasil menuntaskan pendidikan hingga S1. Ia adalah alumni Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana di Kupang. Ia menempuh pendidikan tinggi dengan jalur beasiswa. Berbagai aktivitas Forum Anak yang ia ikuti, prestasi akademik yang mumpuni, serta restu dari orang tua untuk terus meraih mimpi menjadi portofolio yang melanggengkan perjalanan pendidikan Nana. Kebiasaan yang terbangun saat aktif dalam Forum Anak menjadi bekal yang berguna di bangku kuliah. Nana memiliki kepercayaan diri untuk mengungkapkan aspirasi. Keterlibatannya sebagai peneliti anak juga membuatnya lebih mengenal seluk-beluk riset yang banyak dilakukan di perkuliahan. 

 

Perempuan Muda dengan Panggilan Kemanusiaan 

“Pekerjaan saya di Narasi itu bukan sesuatu yang instan. Ini hasil dari proses yang sudah saya lalui sejak terlibat di Forum Anak. Walaupun saya hanya seorang anak kecil dari kampung yang waktu itu tidak ada sinyal dan listrik, tapi bisa bekerja di media di Jakarta. Mimpi yang terwujud ini sangat saya syukuri. Sekarang saya yakin, panggilan kemanusiaan saya itu melalui profesi yang saya geluti,” jelas Nana. 

Profesi ini ia awali dengan menjadi peserta dalam pelatihan menulis dan jurnalistik dasar yang dulu WVI fasilitasi. “Itu yang sebenarnya membentuk bibit saya untuk mengalami dan kemudian menjalani panggilan sebagai pekerja media,” ceritanya. Selagi menjalani, Nana semakin menyadari bahwa profesinya ini juga menjadi saluran curahan keresahannya, saluran kritiknya pada kebijakan yang tidak berpihak pada kelompok rentan, dan saluran perjumpaan dengan berbagai lapisan masyarakat. 

“Ketika di Forum Anak, saya menyuarakan isu anak dan perempuan dengan bahasa anak-anak. Tapi ketika saya semakin belajar, bertemu dengan beragam orang yang punya perhatian pada isu serupa, akhirnya jadi semakin tajam, semakin berisi keberpihakan saya pada isu yang digeluti sejak saya masih didampingi WVI dari tahun 2005 sampai 2014,”. 

Dari sekian banyak transformasi yang ia alami, Nana menentukan satu yang paling berharga yakni, pemahaman tentang hak anak. Sebelum WVI hadir dan mendampingi anak dan masyarakat di desanya, ia tidak tahu bahwa setiap anak mempunyai sejumlah hak yang harus diakui, dihargai, dipenuhi oleh orang dewasa dan negara. “Ketika masih usia anak, seharusnya bersekolah bukan jadi tulang punggung keluarga atau menikah. Dan jadi punya perspektif baru, ternyata penerapan hak anak itu tidak sekompleks apa yang dibahasakan dalam Undang-undang,” jelasnya. 

Hak anak itu sederhana tapi harus bermakna. Selama didampingi WVI, hak Nana sebagai seorang anak diakui dengan boleh memilih teman sekamar bila ikut kegiatan, boleh memilih menu makanan selama pelatihan, atau boleh menentukan dos and don’ts selama sesi materi. “Hal-hal ini yang membuat saya benar-benar merasakan apa yang disebut dengan partisipasi bermakna. Aset pengetahuan ini yang paling berharga buat saya dan terbawa sampai ke kehidupan saya sekarang,”. 

Kini, ia juga menghidupi panggilan untuk menjadi inspirasi bagi anak-anak perempuan lain. Dinamika hidupnya sebagai seorang anak, remaja hingga dewasa dapat menjadi refleksi bagi anak perempuan lain. Nana menyimpulkan, “Kalau saya tidak bergabung di Forum Anak, saya tidak akan tahu ternyata saya punya bakat public speaking dan menulis. Saya berhasil menemukan ketika makin aktif dalam komunitas yang bisa memberi ruang yang nyaman dan aman untuk saya terus bertumbuh,”. 

Nilai yang Nana yakini saat ini yakni, dalam diri setiap manusia, terutama perempuan atau kelompok rentan lain, selalu ada potensi dan peluang yang menunggu untuk ditemukan oleh pribadi itu sendiri. Oleh karena itu, teruslah bereksplorasi. Cara praktisnya adalah bangun jejaring dan bersosialisasi dengan komunitas yang sesuai dengan minat. Jangan merasa kecil dan takut, melainkan manfaatkan semua sumber daya yang dimiliki. “Percayalah, hal-hal kecil yang kita upayakan sehari-hari itulah yang akan mendekatkan kita pada mimpi-mimpi kita,” pungkas Nana. 

 

 

Penulis: Mariana Kurniawati (Communication Executive) 


Artikel Terkait